Wednesday, April 4, 2012

Kurangnya ketahanan pribadi dalam belajar matematika dapat diduga akan berpengaruh besar terhadap gairah belajar matematika. Jika hal ini dibiarkan maka siswa akan semakin tidak menyenangi matematika dan bahkan pada taraf tertentu akan bersikap anti pati pada pelajaran tersebut. Akibat dari itu semua tentu prestasi belajar matematika akan semakin rendah.

Matematika dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Matematika memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa yang lainnya. Hal ini terlihat pada saat pembelajaran berlangsung hampir 60% diantara para siswa memiliki ketahanan pribadi dalam belajar matematika masih rendah.

Sedikitnya siswa yang mengajukan pertanyaan dan berani menjawab pertanyaan atau menanggapi pendapat temannya, kurang berani mengambil resiko (takut salah), kebiasaan mencontoh pekerjaan temannya dan kurang terlibat aktif dalam kelompok (cemas), merupakan indikasi lemahnya ketahanan pribadi (keuletan) siswa dalam belajar matematika.

Kondisi di kelas juga diperparah dengan pengelolaan guru dalam proses pembelajaran diantaranya masih kuatnya dominasi guru dalam proses pembelajaran, guru secara aktif menjelaskan materi, memberikan contoh dan latihan, sementara siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran. Disamping itu guru dalam pembelajarannya masih indoktrinasi yaitu mendudukkan dirinya sebagai maha tahu, maha benar, dan dalam proses pembelajarannya guru belum mengembangkan kemampuan belajar siswa dalam berfikir kritis, logis dan kreatif.

Pada kurikulum 2004 tentang Ringkasan Kegiatan Belajar Mengajar disebutkan bahwa: belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Pada buku itu juga disebutkan pula prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar diantaranya adalah berpusat pada siswa. Belajar dengan melakukan serta mengembangkan kemampuan sosial.

Dengan memperhatikan 3 prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikemukakan pada Kurikulum 2004 terlihat bahwa prinsip-prinsip tersebut mengacu pada pandangan konstruktivis yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksikan pengertian sendiri terhadap suatu konsep sehingga lebih menarik dan bermanfaat bagi siswa, bila dibandingkan dengan jika pengertian tersebut diperoleh secara langsung dari guru, sehingga pembelajaran sering disebut pembelajaran berpusat pada siswa. Salah satu bentuk pembelajaran yang berorientasi kepada pendekatan konstruktivis adalah model pembelajaran kooperatif.

Belajar hendaknya mampu memberikan bekal yang memungkinkan siswa dalam kondisi yang bagaimanapun. Belajar jangan hanya dimaksudkan untuk mengasah otak, tetapi juga untuk mengasah “qolbu” suapaya tercipta rasa positif seperti lebih percaya diri, tabah, tenang, tidak mudah gelisah, mau menghargai orang lain, tidak mematikan semangat orang lain dan pantang menyerah.

Hal-hal diatas memberikan arah bahwa pembelajaran matematika hendaknya tidak boleh melepaskan diri dari proses kerjasama. Dengan bekerja sama, seorang anak yang lebih “dewasa” dalam suatu konsep bisa memberi bantuan kepada temannya untuk mencapai kemampuan idealnya. Dengan bekerja sama, peluang terbentuknya ketrampilan sosial dan kematangan emosional juga lebih besar. Dan diharapkan dapat pula meningkatkan ketahanan pribadi siswa dalam belajar matematika.

Perihal: Pembelajaran Kooperatif Untuk Meningkatkan Keuletan Siswa
Peringkat: 4.5 - Diulas oleh: Unknown